Saatnya tentukan pilihan SekolahMu" Tawadzu,Beriman,Berilmu,Kereeen" *smantek cinta Qur'an *smantek Digital Market *smantek Fokus LifeSkill
Minggu, 04 April 2021
TEORI BELAJAR JNTUK ABAD 21
Adapun pengertian dari belajar menurut Ernest R. Hilgard adalah kegiatan atau proses yang dilakukan secara sengaja dan menimbulkan perubahan atas keadaan sebelumnya. Umumnya setelah belajar seseorang cenderung melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik.
Nah, bicara mengenai teori pembelajaran sebenarnya jenisnya cukup beragam. Di antaranya terdapat 5 jenis teori belajar menurut para ahli yang paling terkenal. Simak poin-poinnya berikut ini.
Teori Kognitif
Teori kognitif mulai berkembang pada abad 20-an. Secara sederhana teori ini menggambarkan bahwa belajar adalah aktivitas internal yang terdiri dari beberapa proses, seperti pemahaman, mengingat, mengolah informasi, problem solving, analisis, prediksi, dan perasaan.
Ada juga yang menggambarkan bahwa teori belajar kognitif itu ibarat komputer. Proses awalnya dimulai dengan input data, kemudian mengolahnya hingga mendapatkan hasil akhir. Beberapa tokoh yang berperan mengembangkan teori ini adalah Jean Piaget, Bruner, dan Ausubel.
Dalam proses belajar mengajar di sekolah, contoh penerapan teori kognitif adalah guru menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta didik serta memberi ruang bagi mereka untuk saling bicara serta diskusi dengan teman-temannya.
Teori Behavioristik
Teori yang dianut sejumlah ilmuwan, seperti Gage dan Berliner ini menyatakan bahwa sebuah pengalaman mampu mengubah tingkah laku (kebiasaan atau proses berpikir) seseorang sebagai hasil proses belajar dari pengalaman itu sendiri.
Untuk mengaplikasikan teori ini, seorang guru perlu melakukan beberapa proses, seperti memberikan dorongan supaya muridnya dapat merasakan rasa ingin tahu, melakukan stimulus guna memperoleh respons siswa, dan melakukan penguatan (reinforcement)—pengulangan stimulus dalam bentuk berbeda.
Teori behavioristik dinilai terlalu fokus pada pendidik. Jadi, tantangannya adalah guru harus lebih kreatif dalam menyampaikan suatu materi agar siswa tidak bosan.
Teori Humanis
Teori belajar selanjutnya adalah humanistik yang berkembang dari teori behavioristik. Tokoh dari teori humanis adalah Carl Rogers dan Abraham Maslow. Dilihat dari definisinya, teori humanis adalah metode pembelajaran yang fokus pada peserta didik guna mengembangkan potensinya.
Ada beberapa faktor yang mendukung teori humanis, yaitu peran kognitif—pemahaman seseorang tentang ilmu pengetahuan, dan peran afektif—faktor mental yang membentuk individu.
Dengan mengaplikasikan teori humanis, siswa akan merasa senang selama proses belajar dan bisa menguasai materi dengan gampang.
Teori Konstruktif
Teori konstruktif sejatinya sudah ada dari dulu, namun masih digunakan sampai sekarang karena bersifat efektif dan mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan zaman. Lewat teori konstruktif, peserta didik diajak untuk mendalami pengetahuan secara bebas atau juga bisa memaknainya sesuai pengalaman.
Dalam praktiknya, siswa akan diberi ruang untuk membuat ide atau gagasan menggunakan bahasanya sendiri. Dampaknya, lewat penjelasan yang familier, orang lain diharapkan mampu menerima ide yang disampaikan dan merangsang imajinasinya.
Teori Gestalt
Teori Gestalt merupakan percabangan dari teori kognitif. Teori ini muncul dari buah pikiran seorang psikolog Jerman, yaitu Max Wertheimer. Dalam teori gestalt, proses belajar seseorang dimulai dari mendapatkan informasi, kemudian melihat strukturnya secara menyeluruh.
Setelah itu, proses dilanjutkan dengan menyusun kembali informasi yang didapat dalam struktur yang lebih sederhana hingga individu tersebut mampu memahami informasi yang coba disampaikan.
Menariknya, konsep ini tak hanya diaplikasikan dalam proses belajar mengajar antar guru dan murid, tapi juga biasa dimanfaatkan dalam proses desain.
Demikian 5 teori belajar paling terkenal dalam dunia psikologi pendidikan. Memasuki abad 21, muncul teori baru yang disebut sebagai pembelajaran abad 21. Teori ini dirancang khusus agar sesuai dengan kebiasaan generasi milenial yang hidup serba modern akibat berkembangnya teknologi secara pesat.
Di dalam pembelajaran abad 21, Anda akan mengenal 4 konsep utama, yaitu kerja sama, komunikasi, berpikir kritis dan problem solving, serta daya cipta dan inovasi. Melalui konsep tersebut, harapannya peserta didik bisa mencapai masa depan yang cemerlang.
Minggu, 28 Februari 2021
KKO
KATA KERJA OPERASIONAL (KKO)
TAKSONOMI BLOOM
C1- Pengetahuan
C2-Pemahaman
C3 Aplikasi
C4 Analisis
C5 Evaluasi
C6 Kreasi
Mengutip
Memperkirakan
memerlukan
menganalisis
mempertimbangkan
mengabstraksi
Menyebutkan
Menjelaskan
menyesuaikan
Mengaudit/ memeriksa
menilai
menganimasi
Menjelaskan
Mengkategorikan
mengalokasikan
membuat blueprint
membandingkan
mengatur
Menggambar
Mencirikan
mengurutkan
membuat garis besar
menyimpulkan
mengumpulkan
Membilang
Merinci
menerapkan
memecahkan
mengkontraskan
mendanai
Mengidentifikasi
Mengasosiasikan
menentukan
Mengkarakteristik-kan
mengarahkan
mengkategorikan
Mendaftar
Membandingkan
menugaskan
membuat dasar pengelompokkan
mengkritik
mengkode
Menunjukkan
Menghitung
memperoleh
merasionalkan
menimbang
mengkombinasikan
Memberi label
Mengkontraskan
Mencegah
menegaskan
mempertahankan
menyusun
Memberi indeks
Mengubah
mencanangkan
membuat dasar pengkontras
memutuskan
mengarang
Memasangkan
Mempertahankan
mengkalkulasi
mengkorelasikan
memisahkan
membangun
Menamai
Menguraikan
menangkap
mendeteksi
memprediksi
menanggulangi
Menandai
Menjalin
memodifikasi
mendiagnosis
menilai
menghubungkan
Membaca
Membedakan
mengklasifikasikan
mendiagramkan
memperjelas
menciptakan
Menyadari
Mendiskusikan
melengkapi
mendiversifikasi
merangking
mengkreasikan
Menghafal
Menggali
menghitung
menyeleksi
menugaskan
mengkoreksi
Meniru
Mencontohkan
membangun
memerinci ke bagian-bagian
menafsirkan
memotret
Mencatat
Menerangkan
membiasakan
menominasikan
memberi pertimbangan
merancang
Mengulang
Mengemukakan
mendemonstrasikan
Mendokumentasi-kan
membenarkan
mengembangkan
Mereproduksi
Mempolakan
menurunkan
menjamin
mengukur
merencanakan
Meninjau
Memperluas
menentukan
menguji
memproyeksi
mendikte
Memilih
Menyimpulkan
menemukan
mencerahkan
memerinci
meningkatkan
Menyatakan
Meramalkan
menggambarkan
menjelajah
menggradasi
memperjelas
Mempelajari
Merangkum
menemukan kembali
membagankan
merentangkan
memfasilitasi
Mentabulasi
Menjabarkan
menggunakan
memngumpulkan
merekomendasikan
membentuk
Memberi kode
Melatih
membuat kelompok
melepaskan
merumuskan
Menelusuri
Menggali
mengidentifikasi
memilih
Menggeneralisasikan
Menulis
Membuka
mengilustrasikan
merangkum
menumbuhkan
mengemukakan
menyimpulkan
mendukung
menangani
membuat faktor
menginterupsi
mengetes
mengirim
membuat gambar
menemukan
memvalidasi
memperbaiki
membuat grafik
menelaah
membuktikan kembali
menggabungkan
menangani
menata
memadukan
mengilustrasikan
mengelola
membatasi
mengadaptasi
memaksimalkan
menggabungkan
menyelidiki
meninimalkan
mengajar
memanipulasi
mengoptimalkan
membuat model
mempercantik
memerintahkan
mengimprovisasi
mengoperasikan
menggarisbesarkan
membuat jaringan
mempersoalkan
memberi tanda/kode
mengorganisasikan
memprioritaskan
mensketsa
mengedit
mereparasi
Sabtu, 23 Januari 2021
pentingnya IQ EQ dan SQ
- Belajar adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membuat diri ini lebih baik. Dalam belajar kita di pengaruhi dua factor besar yaitu eksternal yang meliputi lingkungan, fasilitas belajar dan lain-lain. Dan factor internal yang meliputi motivasi, keinginan, kecerdasan (IQ, EQ dan SQ), perasaan (emosi), kehendak (konasi) dan pengenalan (kognisi). Untuk membuat suasana belajar yang nyaman dari siswa kita harus mengetahui seberapa besarkah kecerdasan mereka dalam menagkap pengajaran dari gurunya. Hanya dengan begitu, kita bisa memberikan pelajaran sesuai dengan kapasitasnya, karena kalau tidak, otak mereka akan terbuang begitu saja karena memaksakan dirinya untuk paham pada materi yang tidak sesuai dengan kapsitasnya.
Selasa, 20 Oktober 2020
KUTIPAN sajarah Palabuanratu
SAJARAH PALABUAN RATU NURUTKEUN PANTUN BOGOR & BABAD CIANJUR (Cek Buhun Sunda, Nyi Roro Kidul Ngan Saukur Dongeng Ciptaan Mataram)
Kintunan : Luki Hermawan
Runtuhna karajaan Pajajaran teu sakaligus, kusabab wadyabalad Islam geus aya 12 kalina ngagempur Pajajaran salila 5 taun angger nagen teu bisa ditembus benteng pertahananana. Kakarak dina mangsa karajaan dipimpin ku Prabu Nilakendra, benteng Pajajaran nu dibangun ku Prabu Siliwangi taun 1478 ahirna ancur ditarajang wadyabala Islam.
Kitu oge aya sababaraha sabab anu jadi cukanglantaranna, dina buku Sajarah Cianjur nu disusun ku Drs. Bayu Surianingrat ngajelaskeun yen ancurna benteng Pajajaran kusabab nu jaga panto gerbangna nyaeta dua sadulur Ki Jongjo jeung Ki Jungju hianat ka Pajajaran kusabab nyeri hate pangkatna teu naek-naek, ahirna mukakeun panto gerbang benteng Pajajaran. Sedengkeun cek Pantun Bogor, jebolna pertahanan Pajajaran kusabab Jaya Antea salah sauran gegeden Pajajaran hianat, sarta biluk ka pasukan Banten.
Lian ti eta runtagna Pajajaran kusabab kaayaan pamarentahanana geus nyirorot pamorna teu siga jaman Prabu Siliwangi buyutna Prabu Nilakendra, korupsi dimamana, gegeden karajaan geus loba hianat ka rahayat jeung rajana, ari Prabu Nilakendra raja Pajajaran hirupna ngaresi, resep nyepen, puasa saban poe, nepika teu paduli kana kaayaan nagara.
Kaayaan kitu pikeun Sultan Banten Maulana Yusup matak pihariwangeun, dilain-lain oge karajaan Pajajaran teh warisan karuhuna nyaeta Prabu Siliwangi, kapan Maulana Yusup teh putrana Maulana Hasanuddin Sultan Banten ka I, ari Maulanan Hasanudin putrana Sunan Gunung Jati Cirebon, Sunan Gunung Jati Cirebon putrana Ratu Mas Rara Santang, sedengkeun Ratu Mas Rara Santang putrana Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja ti prameswari Ratu Subanglarang. Jadi sabenernamah antara Banten jeung Pajajaran sakokocoran sarua seuweu siwi Prabu Siliwangi. Panembahan Yusup ngarasa geus waktuna Pajajaran disalametkeun tina sagala rupa krisis moral anu tumiba ka rahayatna.
Kukituna dina hiji poe, tengah peuting Ki Jungju mawa pasukan kalayan lenlencepan muru gapura benteng Pajajaran, ti dinya geus ngadagoan Ki Jongjo adina anu mukakeun panto gerbang benteng karaton, sakedet netra sanggeus dibuka panto utama benteng mah Panembahan Yusup marentahkeun pasukanna asup kajero benteng kalayan ngadadak, atuh puguh dibere serangan dadakan ti pasukan tempur gabungan sapangeusi Pajajaran anu sarare tibra tagiwur, teu puguh polah, najan aya pasukan karajaan anu ngalawan bari taya komando anu utama.
Matak harita keneh tanggal 8 Mei 1579 Pajajaran sirna ing bumi, karaton diduruk teu disesakeun saeutik-eutik acan ku pasukan Islam.
Makam-makam raja dibongkaran make siayah Tumpas Kelor strategi Demak nyaeta anu salawasna ngancurkeun hiji kabudayaan nepika ka akar-akarna. Matak ulah heran nepika ayeuna makam raja Sunda ampir taya nu nyesa, anu aya oge loba anu disamarkeun jadi makam waliyuloh sangkan henteu diancurkeun ku pasukan Islam jaman harita.
Prabu Nilakendra ngalolos ti Karaton, duka kamana jugna makamna taya nu terang dugi ka ayeuna. Putra makuta Pajajaran Ragamulya Suryakancana disalametkeun ka gunung Pulosari Banten. Ngan nurutkeun pedaran Pantun Bogor, Prabu Nilakendra atawa Prabu Siliwangi Pamungkas nyalametkeun diri ka basisir Tegal Buleud Sukabumi (aya dina Riwayat Wangsit Siliwangi).
Sanggeus Prabu Siliwangi Pamungkas ngahiyang, Prabu Anom Kian Santang ngaroloskeun diri ka gunung Halimun, muka kahirupan anyar jadi somah kalayan nyamurkeun diri jadi Batara Cikal anu engkena ngarundaykeun masarakat adat Ciptagelar. Sawarehna deui urut Bareusan Bhayangkara (pangawal raja) muka kahirupana anyar jadi karuhun masarakat adat Baduy Banten ayeuna. Sedengkeun rombongan putri cikal Prabu Siliwingawi nyaeta Putri Gandrung Arum, nyalametkeun diri hirup nyamuni jadi Batari di Lebak Cawene, disebut Lebak Cawene teh kusabab sang putri di baturan ku 7 dayang-dayang geulis anu masih keneh cawene / parawan antukna tempat eta disebut lebak Cawene.
Lebak Cawene nepika ayeuna taya nu terang dimana persisna, ngan cenah aya diantara gunung Halimun, gunung Bengbreng, gunung Beser, Gunung Suren, gunung Pangkulahan, gunung Ciawi tali, gunung Panyogehan, gunung Salimbar, jeung gunung Talaga.
Ngan cenah dilebak Cawene bakal kaluar kakayaan alam anu tohaga pikeun anu masih keneh tuhu kana Purbatisti purbajati Sunda, ari ugana nyaeta kieu :
Wayah Lebak Cawene jadi enggon pindah Pangawinan, dibalabar heula ku diwayah janari gede. Manuk ketug bae 7 liliran, rame sora nu tungtugulan di gunung Lumpang laju digunung Halimun kadenge rame sora nu gogoongan.
Tanda-tanda kaguarna Lebak Cawene nyaeta sakumaha Uga kieu : Amun di ci Sogeh Beulah girang geus aya cukang batu, sakendengan gunung Kendeng baris rata katincakan. Lantaran tengah alas nu Beulah kidul, ku anu turun tina papatong, aya curug sina digempur jeung disogehna gunung Combong, anu ngurugan karaton aheng anu eusina putri-putri denok marontok, gareulis arenay koneng…” Teu saeutik korban jiwa salila ratusan taun nepika ayeuna anu tadina hayang muka harta karun sakumaha Uga Lebak Cawene anu masih keneh misterius nepika ayeuna.
Cag heula ngeunaan Lebak Cawane, ayeuna urang caturkeun lalampahan putri bungsu Prabu Nilakendra, nyaeta Dewi Purnamasari nyalametkeun diri ka basisi laut kidul. Sanggeus tilu bulan leumpang sakaparan-paran antukna Purnamasari netepkeun diri muka kahirupan anyar di muara Cimandiri. Dibarengan ku pangawalna anu satia nyaeta Rakean Kalangsunda sang putri ngababakan muka kampung dingaran Babakan Cidadap.
Ngaran Cidadap nyoko kana hiji sirah cai anu aya tangkal dadapna. Lila-lila Babakan Cidadap beuki rame, didaregdeg ku para pamayang marake parahu, jukung paying jeung nudaragang nepika jadi hiji kapuunan. Dalapan taun ti harita jadi palabuan laut nu rame, ku rahayatna dingaranan Cidadap Palabuan Nyai Ratu, sebutan Nyai Ratu nyaeta pikeun Dewi Purnamasari anu diangkat jadi Puun / Kapala pamarentahan. Dewi Purnamasari jadi Ratu Puun lilana 15 taun, nepika tempatna nelah Palabuan Nyai Ratu Puun. Jabatan Ratu Puun dipasrahkeun ka putri tunggalna nyaeta Mayang Sagara, tina jatukrami jeung Rahyang Kumbang Bagus Setra satria Pajajaran anu gugur sawaktu Pajajaran diserbu tentara Islam. Sanggeus masrahkeun kalungguhan Ratu Puun ka anakna, Dewi Purnamasari tuluy hirup mandita nunggu papasten ajalna di gunung Sireum (deukeut Warung Kiara Kab. Sukabumi ayeuna).
Sawaktu mimiti marentah Ratu Puun, kaayaan Cidadap Palaban Nyai Ratu Puun geus nyilorot pamorna, kukituna ku Mayang Sagara puser dayeuhna ti Cidadap dipindahkeun ka lokasi Palabuan Ratu ayeuna. Ditempat anyar ieu Mayang Sagara ngawangun karaton agreng, sang putri henteu deui ngan saukur Ratu Puun tapi diistrenan jadi Ratu Karajaan anyar anu rek ngawariskeun Pajajaran anu geus sirna, karajaan anyarna dingaran Pakuan Pajajaran Mandiri. Dewi Mayang Sagara dinobatkeun ku sebutan suci Ratu Kidul. Wilayahna jadi karajaan basisir laut nu tohaga, ngalimpudan Gebang Kuning (Pakidulan Garut), Tanjung Panto Muara Binuangen (Pakidulan Banten), malah Palabuan ratu oge harita remen disebut Dayeuh Pakuan, sebutan anu kungsi dipake ku Sri Baduga Maharaja sawaktu ngajadikeun Bogor jadi puseur dayeuh Pajajaran. Ngan pikeun rahayatna mah tetep wae nyebutna teh Palabuan Nyai Ratu Puun, sedengkeun ka Mayang Sagara nyebutna teh Ratu Kidul.
Karajaan Pakuan Pajajaran Mandiri kungsi diserang ku Nyai Ratu Sagara Jampang ti basisir laut Kidul Garut, malah nepika bisa ngasupkeun Mayang Sagara ka pangberokan, ngan upaya ngarebut kakawasaan bisa dperuhkeun ku Rakean Kalang Sunda manten senopati Pajajaran anu teu weleh satia ngaping ngajaringna. Ratu Kidul Mayang Sagara sajaman jeung Dalem Cikundul/ Aria Wiratanu I Bupati Cianjur ka I (1677-1691). Malahmah Ratu Kidul Mayang Sagara milu nungkulan masamoan para adipati digunung Rompang Pakidulan Sukabumi. Masamoan para kepala daerah anu di kokolotan ku Sang Hyang Borosngora raja Panyalu dihadiran oge ku para Bupati liana saperti Raden Sanghyang Panaitan atawa Raden Widaya / Pangerang Rangga Sinom ti Sedang, Kanjeng Adipati Sukawayana, Raden Adipati Lumaju Gede Nyilih Nagara ti Cimapag, Kanjeng Kyai Aria Wangsa Merta ti Tarikolot, Cikartanagara, Kanjeng Dalem Nala Merta ti Cipamingkis,Pangeran Hyang Jaya Loka ti Cidamar,Pangeran Hyang Jatuna ti Kadipaten Kandang Wesi, Pangeran Hyang Krutu Wana ti Parakan Tilu,Pangeran Hyang Manda Agung ti Sancang. Para bupati anu haladir kabeh sapuk ngadegkeun karajaan nu disebut karajaan Gagang, sedengkeun anu kapilih jadi rajana nyaeta Dalem Cikundul bupati Cianjur diistrenan jadi Raja Gagang.
Proklamasi karajaan Gagang diumumkun tanggal 2 September 1655, anu eusina negeskeun yen anggota karajaan Gagang henteu tunduk ka sasaha ( Ka Mataram, Sumedang Larang, Banten, Cirebon jeung Belanda). Karajaan Gagang ngan tunduk patuh ka hukum Alloh SWT. Karajaan Pakuan Pajajaran Mandiri di Palabuan Ratu Sukabumi nu dipimpin Ratu Kidul beuki gede, antukna mawa hariwang ka Sultan Mataram Amangkurat I (1646-1677) anu harita keur geten ngajajah pulo Jawa kaasup Jawa Barat ti jaman Sultan Agung Mataram (1613-1645) keneh.
Amangkurat I tuluy ngeridkeun pasukana ka Palabuanratu ngagempur karajaan nu dipimpin Ratu Kidul Mayang Sagara. Tangtu wae Kasultanan Mataram anu didukung ku Belanda lain tandingan karajaan Palabuanratu. Karajaan Pakuan Pajajaran Mandiri ancur burakrakan digempur pasukan Mataram, Ratu Kidul Mayang Sagara gugur dikurebkeun di Karang Hawu.
Ku jahat-jahatna pulitik Kasultanan Mataram anu harita keur ngajajah tatar Sunda, hayang maksakeun budaya Jawa ka urang Sunda. Nepika sejarah Palabuanratu dirubah total, riwayat Dewi Purnamasari jeung Ratu Kidul Mayang Sagara dihapus, diganti ku dongeng Nyi Roro Kidul pangawasa karajaan siluman basisir laut Palabuanratu. Politik ngahapus sejarah karuhun Sunda hasil, antukna nepika yeuna geus ngaurat akar Nyi Roro Kidul raja siluman laut dipercaya kuumumna rahayat Nusantara. Sedengkeun riwayat anu samestina nyaeta Dewi Purnamasari jeung Ratu Mayang Sagara nu ngadegkeun Palabuanratu weleh geus teu dipikawanoh deui, hususna ku urang Sunda pituin. (Luki Muharam)


